
Ilustrasi editorial Hari Puisi Sedunia. Sumber informasi: UNESCO.
Hari Puisi Sedunia menjadi momentum untuk menempatkan puisi bukan sekadar karya estetis, tetapi juga sebagai ruang hidup bahasa, ingatan budaya, dan identitas masyarakat.
BENGKULU – Setiap 21 Maret, masyarakat dunia memperingati Hari Puisi Sedunia. UNESCO menetapkan peringatan tersebut untuk mendukung keragaman linguistik melalui ekspresi puitis, menghidupkan kembali tradisi pembacaan puisi, serta memperluas ruang bagi bahasa-bahasa yang kurang terdengar.
Bagi Bengkulu, peringatan ini memiliki makna yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Puisi hadir tidak hanya dalam bentuk puisi modern berbahasa Indonesia, tetapi juga dalam pantun, rejung, dendang, mantra, tembang tradisi, dan berbagai bentuk sastra lisan yang diwariskan dalam bahasa daerah. Di dalamnya tersimpan nilai kesopanan, hubungan manusia dengan alam, pengalaman sejarah, cinta, kritik sosial, dan pengetahuan lokal.
Perubahan pola komunikasi dan kuatnya dominasi bahasa populer di media digital dapat mempersempit ruang penggunaan sastra lisan. Oleh sebab itu, dokumentasi, penelitian, penerjemahan, dan pengajaran karya puitis daerah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutannya. Rekaman audio dan video, transkripsi, analisis makna, serta publikasi digital dapat membantu karya tersebut menjangkau pembaca dan pendengar yang lebih luas.
Dalam perspektif linguistik terapan, puisi dapat dikaji melalui pilihan kata, metafora, bunyi, gaya bahasa, struktur wacana, konteks budaya, dan proses penerjemahan. Puisi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar untuk meningkatkan literasi, apresiasi budaya, kemampuan berbicara, menulis kreatif, serta kesadaran peserta didik terhadap keragaman bahasa.
Program Doktor Linguistik Terapan FKIP Universitas Bengkulu dapat menjadikan momentum Hari Puisi Sedunia sebagai ruang untuk mempertemukan penelitian bahasa dengan sastra dan budaya. Kegiatan seperti pembacaan puisi multibahasa, diskusi sastra lisan Bengkulu, penerjemahan puisi daerah, dan publikasi karya mahasiswa dapat memperkuat ekosistem akademik sekaligus mendekatkan perguruan tinggi dengan masyarakat.
Peringatan Hari Puisi Sedunia 2025 mengajak semua pihak untuk memberi ruang bagi suara yang beragam. Ketika puisi dibaca, ditulis, diteliti, dan diwariskan, bahasa tidak hanya dipertahankan, tetapi juga terus tumbuh mengikuti zaman.
Sumber dan Kredit
Sumber utama: UNESCO – World Poetry Day
Tautan: https://www.unesco.org/en/days/poetry-day
Kata kunci: Hari Puisi Sedunia, puisi Bengkulu, sastra lisan, keragaman bahasa, pembelajaran sastra



Leave a Reply