Kecerdasan buatan dapat membantu pengarsipan, penerjemahan, dan produksi bahan bacaan, tetapi tetap membutuhkan kendali etis dari komunitas penutur.

Sumber gambar: Ilustrasi editorial Program Doktor Linguistik Terapan FKIP UNIB; disusun berdasarkan artikel UNESCO.
Bengkulu – UNESCO pada 27 Februari 2025 mengangkat potensi kecerdasan buatan untuk mendukung dokumentasi dan promosi bahasa lokal. Teknologi dapat membantu mempercepat pengolahan data suara, penyusunan teks, penerjemahan, pencarian kosakata, dan produksi bahan bacaan dalam bahasa yang selama ini kurang terwakili di ruang digital.
Salah satu contoh yang disoroti adalah penggunaan teknologi untuk menghasilkan bahan cerita anak dalam bahasa Bambara. Contoh tersebut memperlihatkan bahwa AI dapat diarahkan bukan hanya untuk kepentingan komersial, tetapi juga untuk memperluas akses bahan literasi dan memperkuat kehadiran bahasa lokal dalam pendidikan.
Meskipun demikian, pemanfaatan AI harus disertai kehati-hatian. Model bahasa dapat menghasilkan terjemahan yang tidak tepat, menghilangkan konteks budaya, atau menggunakan data komunitas tanpa persetujuan yang memadai. Penutur dan pemilik tradisi perlu dilibatkan sejak tahap pengumpulan data, penentuan tujuan, validasi hasil, hingga keputusan mengenai penyimpanan dan distribusi data.
Bagi bahasa-bahasa daerah Bengkulu, AI dapat menjadi alat bantu untuk menyalin rekaman tuturan, mengelompokkan kosakata, membuat indeks arsip, dan mengembangkan bahan pembelajaran. Teknologi tersebut tidak menggantikan keahlian penutur maupun analisis linguistik, tetapi dapat mempercepat pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu sangat panjang.
Program Doktor Linguistik Terapan FKIP Universitas Bengkulu memiliki peluang untuk mengembangkan penelitian yang menggabungkan dokumentasi bahasa, teknologi, pendidikan, dan etika. Fokus utama tetap harus diarahkan pada akurasi, kebermanfaatan, perlindungan hak komunitas, serta penguatan kapasitas generasi muda sebagai pengguna dan pewaris bahasa.
| SUMBER UTAMA UNESCO – Promotion of languages in Africa: cultural diversity and multilingualism Kata kunci: AI, bahasa lokal, dokumentasi bahasa, revitalisasi, etika data |



Leave a Reply