Kemajuan penurunan angka buta aksara perlu dilanjutkan melalui pembelajaran yang fungsional, kontekstual, dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat.

Sumber gambar: Kemendikdasmen, dokumentasi peringatan Hari Aksara Internasional 2025.
Bengkulu – Peringatan Hari Aksara Internasional 2025 menegaskan pentingnya kolaborasi untuk menuntaskan buta aksara dan meningkatkan literasi masyarakat. Data yang disampaikan Kemendikdasmen menunjukkan penurunan persentase buta aksara kelompok usia 15-59 tahun dari 1,71 persen pada 2020 menjadi 0,92 persen pada 2024.
Capaian tersebut perlu dipertahankan melalui program yang menjangkau kelompok dan wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses. Keaksaraan tidak hanya berarti kemampuan mengenali huruf, tetapi juga menggunakan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung untuk kehidupan sehari-hari, pekerjaan, kesehatan, layanan publik, dan partisipasi sosial.
Pembelajaran orang dewasa membutuhkan pendekatan yang berbeda dari pembelajaran di sekolah. Materi perlu dikaitkan dengan pengalaman peserta, menggunakan bahasa yang dipahami, menghargai pengetahuan lokal, dan memberikan manfaat yang segera dirasakan. Fleksibilitas waktu serta dukungan keluarga dan komunitas juga menentukan keberhasilan.
Di era digital, literasi keaksaraan perlu diperluas menjadi kemampuan memahami pesan elektronik, mengakses layanan daring, memeriksa informasi, dan melindungi data pribadi. Tanpa pendampingan, transformasi layanan publik ke ruang digital dapat menciptakan hambatan baru bagi masyarakat yang kemampuan literasinya masih terbatas.
Program Doktor Linguistik Terapan FKIP Universitas Bengkulu dapat berkontribusi melalui penelitian literasi komunitas, analisis kebutuhan, desain bahan ajar kontekstual, dan evaluasi program. Kajian yang melibatkan masyarakat pesisir, perdesaan, atau kelompok dewasa dapat membantu menghasilkan program keaksaraan yang lebih relevan dan berkelanjutan.
| SUMBER UTAMA Kemendikdasmen – HAI 2025 dorong kolaborasi penuntasan buta aksara Kata kunci: Hari Aksara Internasional, buta aksara, literasi fungsional, pendidikan masyarakat, kolaborasi |



Leave a Reply