
Sumber gambar: UNESCO; dokumentasi kegiatan pendidikan multibahasa di Timor-Leste.
Bengkulu – UNESCO dan UNICEF pada Februari 2025 menegaskan kembali pentingnya pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu di Timor-Leste. Negara tersebut memiliki lebih dari 20 bahasa lokal, sementara sebagian besar anak memasuki sekolah tanpa penguasaan yang memadai terhadap bahasa resmi yang digunakan dalam pembelajaran.
Kondisi itu menunjukkan bahwa jarak antara bahasa rumah dan bahasa sekolah dapat menjadi hambatan awal bagi literasi, pemahaman materi, serta partisipasi peserta didik. Pendidikan multibahasa dirancang untuk menjembatani jarak tersebut dengan memanfaatkan bahasa yang telah dikuasai anak sebagai dasar, kemudian mengenalkan bahasa resmi secara bertahap dan terencana.
Pengalaman Timor-Leste penting bagi kajian linguistik terapan karena memperlihatkan hubungan langsung antara kebijakan bahasa dan hasil pendidikan. Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh keputusan memilih bahasa, tetapi juga oleh pelatihan guru, ketersediaan bahan ajar, dukungan keluarga, pemetaan bahasa komunitas, dan evaluasi yang berkelanjutan.
Indonesia, termasuk Bengkulu, memiliki konteks yang berbeda namun menghadapi pertanyaan akademik yang serupa. Di banyak wilayah, anak tumbuh dengan bahasa daerah sebelum berinteraksi secara intensif dengan bahasa Indonesia di sekolah. Penelitian diperlukan untuk mengetahui model transisi bahasa yang paling sesuai dengan usia, lingkungan sosial, dan tujuan pembelajaran.
Program Doktor Linguistik Terapan FKIP Universitas Bengkulu dapat menjadikan pengalaman regional ini sebagai bahan perbandingan bagi penelitian kebijakan bahasa dan pembelajaran. Studi komparatif di kawasan Asia Tenggara berpotensi menghasilkan rekomendasi yang lebih kontekstual mengenai literasi awal, pendidikan inklusif, dan pengelolaan kelas yang memiliki latar bahasa beragam.
| SUMBER UTAMA UNESCO – Strengthening multilingual education for a sustainable future in Timor-Leste Kata kunci: Timor-Leste, multilingual education, bahasa ibu, literasi, kebijakan pendidikan |



Leave a Reply