Revitalisasi 120 Bahasa dan Dialek: Peluang Strategis bagi Pelindungan Bahasa Daerah Bengkulu

s3linguistik Avatar

Revitalisasi 120 Bahasa dan Dialek: Peluang Strategis bagi Pelindungan Bahasa Daerah Bengkulu
Posted on :

Kepala Badan Bahasa memaparkan program prioritas kebahasaan dan kesastraan tahun 2025. Foto: Kemendikdasmen.

Target revitalisasi 120 bahasa dan dialek pada tahun 2025 membuka ruang kolaborasi yang semakin besar bagi perguruan tinggi, pemerintah daerah, sekolah, komunitas, dan penutur bahasa dalam menjaga keberlanjutan bahasa ibu.

BENGKULU – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menetapkan Revitalisasi Bahasa Daerah sebagai salah satu program prioritas tahun 2025. Program tersebut dirancang menjangkau 38 provinsi dan 315 kabupaten/kota dengan target revitalisasi 120 bahasa dan dialek.

Agenda nasional tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan kondisi kebahasaan Provinsi Bengkulu. Wilayah ini memiliki kekayaan bahasa dan dialek, antara lain Rejang, Enggano, Serawai, Lembak, Pekal, Pasemah, Kaur, Nasal, serta ragam Melayu Bengkulu. Kekayaan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menyimpan pengetahuan lokal, sejarah, nilai sosial, sastra lisan, dan identitas masyarakat.

Revitalisasi bahasa tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Upaya pelindungan memerlukan pemetaan vitalitas bahasa, dokumentasi penutur dan kosakata, penyusunan korpus, pengembangan bahan ajar, pelatihan guru, serta pembukaan ruang penggunaan bahasa daerah di sekolah, keluarga, komunitas, dan media digital. Teknologi juga dapat digunakan untuk membuat kamus digital, arsip audio, bahan belajar interaktif, dan konten kreatif bagi generasi muda.

Program Doktor Linguistik Terapan FKIP Universitas Bengkulu memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda tersebut melalui penelitian doktoral, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Bengkulu maupun pemerintah daerah. Kajian sosiolinguistik, dialektologi, dokumentasi bahasa, perencanaan bahasa, pendidikan multibahasa, dan teknologi bahasa dapat diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi berbasis data.

Keterlibatan mahasiswa doktoral juga penting karena setiap penelitian dapat menjadi bagian dari upaya membangun basis data kebahasaan Bengkulu. Penelitian tidak berhenti pada deskripsi struktur bahasa, tetapi dapat diarahkan pada persoalan transmisi antargenerasi, sikap bahasa, penggunaan bahasa di sekolah, perubahan kosakata, hingga strategi memperluas pemakaian bahasa daerah dalam ruang digital.

Revitalisasi 120 bahasa dan dialek menjadi pengingat bahwa pelindungan bahasa merupakan kerja bersama. Dengan dukungan akademik yang kuat, bahasa daerah Bengkulu diharapkan tetap hidup, digunakan dengan bangga, serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

KETERKAITAN DENGAN PROGRAM STUDI
Topik ini dapat dihubungkan dengan penelitian mahasiswa tentang bahasa Rejang, Enggano, Lembak, Serawai, Pasemah, Pekal, Kaur, Nasal, dan Melayu Bengkulu, serta peluang kerja sama penelitian dan pengabdian bersama Balai Bahasa Provinsi Bengkulu.

Sumber dan Kredit

Sumber utama: Kemendikdasmen – Upaya Badan Bahasa dan Itjen Tingkatkan Efektivitas Program Bahasa dan Sastra

Tautan: https://www.kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/12446-Upaya-Badan%20Bahasa%20dan%20Itjen%20Tingkatkan%20Efektivitas%20Program%20Bahasa%20dan%20Sastra

Kata kunci: revitalisasi bahasa daerah, bahasa Bengkulu, linguistik terapan, bahasa ibu, kebijakan bahasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *