Peta jalan global diarahkan untuk memastikan teknologi, informasi, dan layanan digital tersedia bagi masyarakat dengan latar bahasa yang beragam.

Sumber gambar: Ilustrasi editorial Program Doktor Linguistik Terapan FKIP UNIB; disusun berdasarkan prakarsa UNESCO.
Bengkulu – UNESCO pada Juni 2025 membuka kontribusi untuk penyusunan Global Roadmap for Multilingualism in the Digital Era. Prakarsa tersebut bertujuan mendorong ekosistem digital yang tidak hanya didominasi oleh sejumlah kecil bahasa, tetapi mampu melayani keragaman bahasa dan sistem tulisan di dunia.
Kehadiran sebuah bahasa di ruang digital ditentukan oleh banyak faktor: ketersediaan papan ketik dan huruf, korpus teks, data suara, mesin pencari, penerjemahan, moderasi konten, bahan pembelajaran, serta layanan publik. Bahasa yang tidak didukung oleh teknologi berisiko semakin jarang digunakan oleh generasi muda dalam aktivitas digital.
Peta jalan global juga menempatkan isu hak bahasa, akses informasi, tata kelola data, dan keberagaman budaya sebagai bagian dari transformasi digital. Karena itu, pengembangan teknologi tidak cukup hanya mengejar akurasi teknis. Sistem perlu diuji terhadap bias, keamanan data, representasi kelompok, dan dampaknya terhadap komunitas penutur.
Bagi bahasa daerah Bengkulu, langkah awal dapat dilakukan melalui standardisasi dokumentasi, pengumpulan teks dan rekaman yang etis, penyusunan metadata, serta pengembangan sumber belajar daring. Korpus yang berkualitas akan menjadi modal untuk penelitian kebahasaan dan pengembangan aplikasi pada masa depan.
Program Doktor Linguistik Terapan FKIP Universitas Bengkulu dapat berperan sebagai penghubung antara komunitas bahasa, peneliti, pengembang teknologi, dan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut penting agar bahasa daerah tidak hanya menjadi objek digitalisasi, tetapi juga memperoleh manfaat nyata berupa pendidikan, layanan informasi, dan penguatan identitas budaya.
| SUMBER UTAMA UNESCO – Call for contributions to the Global Roadmap for Multilingualism in the Digital Era Kata kunci: multilingualisme digital, UNESCO, teknologi bahasa, akses informasi, bahasa daerah |



Leave a Reply