Kemampuan manusia untuk menilai, mempertanyakan, memahami konteks, dan menunjukkan empati tetap menjadi inti pendidikan di tengah perkembangan kecerdasan buatan.

Sumber gambar: Ilustrasi editorial Program Doktor Linguistik Terapan FKIP UNIB; referensi gagasan dari Kemdiktisaintek.
Bengkulu – Perkembangan kecerdasan buatan menuntut perguruan tinggi untuk meninjau kembali tujuan dan proses pembelajaran. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie pada Juni 2025 menekankan pentingnya pendidikan yang membentuk manusia reflektif, aktif, dan empatik agar teknologi tetap berada dalam kendali manusia.
AI dapat membantu mahasiswa mencari pola, merangkum informasi, memperbaiki bahasa, membuat simulasi, dan mengeksplorasi alternatif. Namun, keluaran AI tetap perlu diperiksa karena dapat mengandung kekeliruan, bias, sumber yang tidak jelas, atau penjelasan yang tampak meyakinkan tetapi tidak didukung bukti.
Dalam pendidikan doktoral, kemampuan utama bukan sekadar menghasilkan teks dengan cepat. Mahasiswa harus mampu merumuskan masalah, menilai teori, memilih metode, mempertanggungjawabkan data, memahami implikasi etis, serta membangun argumentasi orisinal. Tugas-tugas tersebut menuntut penilaian manusia yang matang dan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada mesin.
Bidang linguistik terapan juga perlu mengkaji cara AI memengaruhi praktik membaca, menulis, menerjemahkan, belajar bahasa, dan berkomunikasi. Penelitian dapat diarahkan pada kualitas umpan balik AI, perubahan strategi belajar, bias bahasa, literasi prompt, serta integritas akademik dalam penggunaan alat generatif.
Program Doktor Linguistik Terapan FKIP Universitas Bengkulu memiliki ruang untuk mengembangkan pedoman dan praktik pembelajaran yang transparan. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi pengguna perlu menyatakan penggunaannya, memverifikasi informasi, melindungi data penelitian, serta memastikan bahwa keputusan ilmiah tetap menjadi tanggung jawab peneliti.
| SUMBER UTAMA Kemdiktisaintek – AI tidak akan mengalahkan manusia jika pendidikan membentuk pemikiran reflektif dan empatik Kata kunci: kecerdasan buatan, pendidikan tinggi, berpikir kritis, empati, integritas akademik |



Leave a Reply